oleh

Kaligrafi ‘Xin’ untuk Menag: Pesan Kepercayaan dari KTT Konghucu ASEAN-Tiongkok

PAPUA.SIBERINDO.CO – Di tengah diskursus mendalam mengenai tantangan peradaban modern pada perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme Asean – Tiongkok V di Jakarta, terselip sebuah momen yang sarat makna. Dari tangan Chairman of China Times Media Group, Zheng Xiaohui, selembar karya kaligrafi diserahkan sebagai cendera mata kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.

Di atas lembar kaligrafi tersebut, terukir indah karakter huruf Mandarin “Xin”.

“Ini karakter Xin, yang artinya dapat dipercaya, Bapak. Tekad yang teguh,” jelas Sekretaris Jenderal Urusan Tionghoa MATAKIN & Dosen SETIAKIN Marleen Wang saat mendampingi penyerahan karya seni tersebut kepada Menag dan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Xs. Budi Santoso Tanuwibowo, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga  Pemprov Papua Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026, Christian Sohilait Ajak Warga Perkuat Kebersamaan

Penyerahan ini bukan sekadar formalitas seremonial. Forum tingkat tinggi ini sendiri mempertemukan para pakar, profesor, dan tokoh agama dari Tiongkok, Hong Kong, dan negara-negara ASEAN untuk membahas relevansi nilai Konfusianisme dalam merespons isu global masa kini, mulai dari ekologi, tata kelola pemerintahan, hingga etika teknologi.

Dalam konteks dialog lintas peradaban yang berbobot itulah, kaligrafi ‘Xin’ hadir membawa pesan fundamental. Bagi Profesor Zheng, karya yang dibawa dari Hong Kong ini menjadi cerminan bahwa nilai-nilai keluhuran dapat terus bertahan selama 2.500 tahun karena kemampuannya berbaur dan merawat toleransi. Keberagaman dan perbedaan itulah yang pada akhirnya menciptakan perdamaian.

Baca Juga  Surahman Ingatkan Presiden Jadi Penanggungjawab Covid-19

Rasa saling percaya (mutual trust) dan toleransi menjadi fondasi penting yang turut dibahas dalam KTT ini. Ketua Umum MATAKIN, Xs. Budi Santoso Tanuwibowo, memberikan pandangannya mengenai krusialnya nilai ‘Xin’ di tengah disrupsi zaman.

“Ajaran Konghucu itu Xin, bisa dipercaya. Cita-citanya sederhana: ketika di dalam satu keluarga orang tuanya merasa nyaman, anak-anaknya terdidik dan hormat pada yang lebih senior, serta antarkeluarga saling percaya, kan dunia sudah selesai, sudah damai,” papar Budi.

Baca Juga  LPPM Universitas Andalas Minta Pasar Nasional Segera Serap Komoditas Cabai

Di tengah pesatnya kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi yang perlahan mengambil alih peran mekanis, budi pekerti serta rasa saling percaya antarmanusia menjadi pilar kemanusiaan yang tidak boleh terpinggirkan.

Bagi Kementerian Agama, penerimaan cendera mata ini menjadi pengingat luhur di tengah upaya merawat kerukunan umat. Melalui partisipasi dan dukungan pada forum-forum lintas peradaban seperti KTT ini, nilai-nilai spiritualitas keagamaan, seperti pesan kepercayaan dalam karakter ‘Xin’, diharapkan dapat terus hidup dan menjadi jangkar untuk menjaga keharmonisan masyarakat modern.(***)

 

News Feed