oleh

Sambut Hari Santri 2026, Pelatihan AI MOOC PINTAR Kemenag Tembus 30.000 Pendaftar

PAPUA.SIN.CO.ID – Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya meningkatkan kapasitas pendidikan di pesantren dengan menghadirkan beragam pelatihan melalui program MOOC Pintar. Melalui program ini, Kemenag mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai sarana pendukung pembelajaran santri, tanpa menggantikan peran sentral kiai dan ustaz.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, saat meluncurkan program MOOC Pintar dalam rangka Hari Santri 2026 di Jakarta, Senin (19/10/2026). Program tersebut merupakan kolaborasi Ditjen Pesantren dengan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM).

Basnang mengingatkan bahwa teknologi Artificial Intelligence (AI) di lingkungan pesantren hanyalah sebagai alat bantu pembelajaran. AI dinilai tidak akan bisa menggantikan peran sentral kiai, ustaz, maupun guru.

Baca Juga  Gubernur Papua Ajak Semua Pihak Perkokoh Nilai Pancasila

“Penggunaan teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti proses pendidikan yang telah berjalan” kata Basnang.

Basnang mengungkapkan bahwa santri mampu menyesuaikan diri dengan penggunaan teknologi dalam kegiatan pendidikan. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu modal santri untuk menghadapi perubahan zaman.

“Artificial Intelligence hanya sebagai alat untuk menguatkan apa yang sudah berlangsung dan berjalan di pondok pesantren,” katanya.

Lebih lanjut, Basnang menilai santri memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi karena dibekali keterampilan nonteknis (soft skills) selama menempuh pendidikan di pesantren. Keterampilan tersebut meliputi kedisiplinan, kemandirian, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Baca Juga  Aktivis Sosial Masyarakat Ini Menyamakan Gaya Kepemimpinan Jenderal Dudung dengan Sosok Maha Patih Gajah Mada dan Panglima Besar Soedirman

“Soft skill-nya santri itu adalah disiplin, mandiri, apa adanya, tidak neko-neko. Kalau jatuh bangkit lagi, jatuh bangkit lagi. Makanya santri itu bisa survive pada kondisi apa pun,” ujarnya.

Selain pemanfaatan teknologi, Basnang juga mengusulkan pengembangan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan santri dan pesantren. Beberapa bidang yang dapat dikembangkan meliputi pelatihan media, kepemimpinan bagi santri putri, dan kewirausahaan.

“Pelatihan media, misalnya, diharapkan dapat membekali santri dengan kemampuan komunikasi dan keterampilan menjadi juru bicara pesantren,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Basnang turut menyampaikan perkembangan pendaftaran sejumlah pelatihan yang tersedia melalui MOOC Pintar. Pelatihan kecerdasan buatan tercatat diikuti sekitar 30.000 pendaftar, sedangkan pelatihan santri menjadi content creator mencapai sekitar 3.200 pendaftar.

Baca Juga  Pemprov Papua Perluas Akses Kesehatan Lewat Program Pengobatan Gratis

Adapun pelatihan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tercatat diikuti sekitar 1.300 pendaftar dan pelatihan manajemen data ijazah Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS) sekitar 1.400 pendaftar. Sementara itu, sosialisasi ujian akhir PKPPS telah diikuti hampir 1.000 pendaftar.

Basnang berharap kerja sama dalam pengembangan MOOC Pintar dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan santri dan pesantren.(****)

 

News Feed